Zaskia Mecca, Rokok dan Pencitraan (2)

Seperti yang sudah saya sampaikan dalam posting soal Zaskia sebelumnya, sejatinya tak ada yang salah dengan tindakan Zaskia yang merokok. Entah itu sudah menjadi kebiasaannya (bahkan hobby), atau dia masih sekadar mencoba-coba. Merokok sebenarnya menjadi masalah kecil jika itu dilakukan oleh orang awam, tapi itu menjadi besar kita dilakukan oleh seorang Zaskia yang sudah menjadi public figure bernama selebritis (selebritas, menurut kamus linguistics?). Ketika seseorang sudah memasuki wilayah domain public, maka ia harus sadar dengan apa yang akan dia tampilkan di muka umum karena semua yang ia lakukan akan menjadi sorotan khalayak ramai.

Anda tentu sering mendengar berita (lebih tepatnya gossip) tentang seorang seleb dari kotak ajaib bernama “televisi” (pencipta kuntilanak, kata Ayu Utami dalam novel terbarunya “Bilangan Fu) yang punya kebiasaan tertentu, yang sebenarnya masalah pribadi yang tak patut disampaikan ke umum. Tapi mau bagaimana lagi, warna celana dalam, berapa ukuran sepatu, sampai bagaimana posisi tidur seorang seleb tampaknya banyak dinantikan oleh para fansnya. Itulah juga yang menyebabkan kabar Zaskia yang merokok memicu kehebohan.

Belum lama ini Zaskia memberikan pengakuannya dan meminta para penggemar memaklumi kekurangannya. Apa yang dilakukan Zaskia saya kira dilakukan untuk kepentingan pencitraan. Citra itu penting baginya yang sudah kadung dikenal sebagai “artis muslimah” spesialis “tayangan religi” yang menuntut kesantunannya dalam berperilaku ketika berada dalam sorotan orang ramai.

Apakah Zaskia harus berhenti merokok? Lho, itu hak dia. Terserah dia mau melakukan apa. Tapi kalau dia menyadari jika merokok akan merusak citranya, ya jangan merokok di tempat umum. Kalau masih mau merokok, mungkin bisa dipertimbangkan, ketika di kamar mandi, atau di tempat-tempat lain yang hanya malaikat dan Tuhan yang tahu. Persoalan baik dan tidak baik, muslimah atau bejat, itu urusan dengan yang di atas. Tapi dengan fans, seperti pepatah orang Jawa (yang bisa juga menyesatkan) “ajineng rogo soko ajineng busono”. Tampilan luar Zaskia tetap diperlukan untuk kembali meneguhkan citra Zaskia.

Kesaktian Joko Bodo, Mama Lorens, sampai Ustadz yang sadar promosi urusan berikutnya, tapi yang lebih penting bagaimana citra sakti itu dibangun. Apakah benar para “dukun” televisi itu bisa mengubah nasib para penyumbang pulsa (Ketik reg), itu juga tak terlalu penting, tapi bagaimana Joko Bodo, Mama Laurens, dan maaf, sampai Ustadz Haryono, tampil dengan tampilan tertentu jauh lebih penting.

Tung Desem Waringin “membuang” 100 juta dari udara, kalau tujuannya untuk membantu orang, jelas itu satu penghinaan. Tapi bahwa peristiwa tak wajar itu mendapatkan sorotan media, dan oleh karenanya dari sisi marketing itu berhasil, itu sebenarnya yang dituju.

Demam pencitraan mendekati Pemilu dan Pilpres 2009, juga mulai marak di televisi. Soetrisno Bachir yang dengan kampanye Hari Kebangkitan Nasional sampai momen Piala EURO, Prabowo Soebiyanto kampanye membeli produk dalam negeri, Wiranto kampanye menolak kenaikan harga BBM, mohon maaf, semuanya bulshit. Mereka melakukanya karena untuk tujuan lain, bukan menawarkan solusi dari permasalahan yang mereka kemukakan.

Jadi, tak cukup membaca kalimat iklan, membaca endorsment yang ada di belakang buku, melihat tampilan luar, karena bisa saja itu tak sesuai dengan isinya. Zaskia adalah sekian dari produk marketing yang sadar akan pencitraan, maka janganlah menuntut berlebihan darinya. Karena, sekali lagi, seperti Joko Bodo dan kroni-kroninya, kesan lebih penting daripada manfaatnya.

Saya justru kasihan kepada mereka yang hidup dikelilingi dengan sorotan mata media. Meski dalam beberapa hal mereka diuntungkan, tapi dalam hidup pribadinya tak bisa lebih leluasa. Paling enak memang menjadi orang biasa karena kita bisa melakukan apa saja yang kita mau tanpa khawatir akan citra. Jika pun kita melakukan tindakan buruk, maka kita sendiri yang menanggung dan jika berbuat baik, biarlah itu menjadi rahasia kita sendiri.

2 Comments »

  1. Investasi said

    sah sah saja dia merokok ah publik figure bukan berarti ada pembatasan justru seleb sendiri yg merasa di batasi

  2. ngapain di pusingin….toh merokok hanya makruh.bahkan malah mubah…..seperti makan,minium,berjalan dan lain-2..ngapain g boleh?
    zaskia tetap di hati……..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: